Kakek lagi liat apa?

Pagi hari pukul 05.00 WITA aku mulai menyalakan motor dari penginapan, pelan-pelan ku keluar dari tempat parkir. Aku membawa kamera, air botol minum yang ku isi penuh di galon penginapan, dan motor. Sekitar satu jam setengah aku mengendarai motor dengan angin yang cukup hangat mengibas muka. Mengapa lama sekali? karena Nusa Penida bertopografi naik dan turun bukit dan memang enak untuk dinikmati perlahan. Kala itu aku ingin menuju Atuh Beach dan Diamond Beach lalu berharap mendapatkan sunrise yang cantik disana.

| Aku sampai di Atuh beach!

Pagi di Atuh Beach

Persis seperti di foto sejuk, tenang, ombak surut, angin pagi, cahaya matahari, dan awan sedikit mendung. Seperti biasa langsung kebawah tanpa berpikir nanti keatas lagi kayak gimana, biar berasa berpetualang. Sejujurnya aku selalu ingin mencoba langsung dan merasakan momen lebih dekat dengan air laut. Tapi sayangnya pada waktu itu, airnya sedang cukup surut dan banyak batu karang yang mungkin menghantamku ke karang-karang dan membuat terluka. Tapi begini tampaknya ketika dibawah!

Satu langkah menuju air laut

Kaki sudah menyebur ke air laut tapi tetap menahan diri untuk tidak berenang, *Sendal bau karena selalu dipake untuk nyobain apapun itu. Disana warung dan tempat untuk bersantai dan duduk belum buka, aku berjumpa dengan turis lokal yang menyapa ku dengan berbahasa Inggris “hi! getting your sunrise photo? not really nice” padahal sudah pake kamera 7d mark ii dan pake filternya dan lensa tele. Langsung ku jawab pakai bahasa Indonesia, menarik sekali selama disana jarang melihat turis lokal tapi kali ini aku bertemu dengan pasangan yang memang sudah berumur kira-kira 40-50 tahun mereka cukup keren. Beginilah orang-orang pada pagi hari itu!

Warung di Atuh Beach

Panas tiba dan menyengat aku langsung ke atas menuju pantai Diamond Beach dan cukup sebentar. Dalam waktu 45 lima menit aku sudah mencapai lagi di Atuh Beach, sangat melelahkan karena jalannya terjal tapi aku perlu cepat karena ingin menuju destinasi selanjutnya di Peguyangan Waterfall bersama sobat. Jadi saat menuju kembali ke Atuh Beach aku heran ada kakek yang sedang santai, karena aku sedang cape dan sangat berkeringat aku berhenti. “kek ikut duduk yah…” dia memberi senyum sambil tetap memandang kea arah laut. “Sedang apa kek? Kakek dari mana?” sebenarnya karena beliau tidak banyak menggunakan bahasa indonesia dan menjawab dengan bahasa bali tapi setangkap ku dia menjawab “habis motong rumput untuk ternak, rumah kakek jauh dari sini” sambil senyum melihatkan mulut yang sudah ompong.

Terus memberi senyum tapi sambil melihat ke pantai, aku heran…

OOOOHHHH aku mengerti… ternyata ada bule yang sedang berjemur

Aku memastikan “lagi liat apa kek”, sambil mununjuk ke arah bule yang sedang berjemur “aduhay” katanya dengan beberapa kata yang saya potong haha. Hmmm ternyata memang masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan bule yang suka berjemur di pantai, “aduh keek!” sambil memberi candaan untuknya. yang membuatku tertarik lagi adalah rokok yang dipegangnya yang dia buat sendiri dari sisa kulit jagung dan tembakau yang dilinting dalam lembaran kulit tersebut. “apa tuh kek?” dia bilang “mau coba?” sambil mengeluarkan, tapi aku tidak merokok harusnya ku ajak Mufid. Katanya “ini pahit ga enak, tapi yah ini gratis” saat itu aku menyadari bahwa rokok jadi penyambung sosialisasi dan orang memang merokok untuk mengisi waktu luang.

Masih Gondrong

Setelah itu, aku bergegas untuk kembali menuju parkiran diujung sebelah pantai lainnya jadi harus naik turun tangga lagi yang membuatku heat stroke. Tapi adalah hal yang cukup membuatku kaget yaitu rencana ATUH BEACH yang akan dibangun dan sudah ada investor dari ARAB….

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started