
Laut Nusa Penida dari bukit Gamping
“Riy, ini tempat sumpah bagus banget! kalau gua punya 100 juta diumur 25 nanti, gua teraktir lu diving, tinggal di hotel, sewa motor harley disini!
Muhammad Mufid – Mahasiswa Geologi Trisakti ’16
Ungkapan hiperbolik dan sekaligus harapan dari sobat ku yang semoga terjadi di umur 25 tahunnya. Tetapi memang begitu tampak Nusa Penida dari bukit berbatu gamping itu. Kata sejarah pulau ini dahulunya adalah coral yang artinya dulu ini adalah lautan. Wajar daerahnya cenderung kering, pada saat aku dan Mufid sobat perjalananku sampai di Nusa Penida panas terik selalu berada diatas kami. Keindahannya bukan saja pada pemandangan sekitarnya yang luas tapi jalanan yang mulus juga membuat alam terasa nikmat saat mengendarai motor disepanjang jalan.
Kami menyewa satu buah motor yang terlihat agak jadul tetapi menurut pemiliknya masih kuat untuk digunakan di medan Nusa Pendida. Kami berdua tidak merencanakan apapun di Nusa Penida hanya segumpal rencana ketempat yang mau kita kunjungi, tanpa informasi tempat makan dan tempat menginap. Kami menghabiskan waktu 2 jam untuk mencari sarapan, tempat untuk kami akan diving, dan rencana penginapan. Tapi tak ada satupun yang didapat, badan berkucuran keringat akhirnya kami memutuskan untuk ke tempat wisata yang bisa dan boleh untuk kami berenang.
Kala itu, kami memilih Air Terjun Tembeling yang berjarak sekitar 15-20 km dari lokasi kami di daerah utara Nusa Penida. Menurut aplikasi peta cukup memakan waktu 50 menit saja, menyusuri jalanan Nusa Penida dengan angin yang hangat. Pada tanjakan pertama pergerakan motor kami melambat hingga hampir berhenti, “Fid, kayaknya nih motor ga bakal kuat kalau nanjak terus” komentar ku begitu. Lalu menempuh tanjakan berikutnya dan berikutnya lagi hingga menemui jalan yang bebatuan dan akhirnya mufid harus turun dari motor karena tidak kuat untuk menempuh tanjakan “Pantesan murah riy nih motor, ga ada asuransi bisa nanjak nih” sebutnya. Kami memang berhasil menyewa motor tersebut diharga paling murah diantara penawar motor-motor lainnya.
Disepanjang jalan menuju Air Terjun Tembeling kami menemui pom bensin “fid isi bensin dulu deh kayaknya” sambil memberhentikan motor, “Sumpah riy harusnya nih motor masih banyak bensinnya, katanya masih ada setengahnya lebih itu alat ukur bensinnya aja yang rusak. Masa sih kita ketipu kata bapanya gitu riy” begitu dia meyakinkan. “lemah lah lu! ayok gas aja” komentarnya, yasudah lah aku percaya saja karena memang aku cek masih terlihat ada bensin yang tersisa. Hingga akhirnya kami sampai di depan jalur masuk ke Air Terjun Tembeling, melihat jalanan yang licin, terjal, dan berbatu di jalan yang lebar ukurannya tidak lebih dari 1 meter kami berencana untuk jalan. Tetapi aku tidak mau sampai salah melihat dua orang bule yang datang dari bawah aku menghampirinya dan memastikan “Hello have go been down there? is it far enough to walk and park our bike here” dia sambil ganti pakaian karena kepanasan dan keringatnya berkucuran “It’s bad, there’s three cases to go down there. is far enough to walk around 3-4 km with bad road condition. we’re not good enough to ride bike so we park here, but i think as indonesian you sure can do it” jawabnya. Melihat mufid untuk tau pendapatnya, dia jawab “ayok lah lemah, kita turun aja dulu masalah yang akan kita jumpai setiap kita turun kebawah kita hadapin nanti setelah kita selesai main di bawah”. Yasudah lah pikirku.

Memang cukup jauh ternyata untuk sampai di parkiran terakhir, pikirku ini keputusan yang sangat baik. Walaupun Mufid harus turun dari motor karena jalannya sangat terjal dan kami harus mengairi cakram motor kami karena takut remnya akan hilang karena panas. Kami cukup bangga karena tidak ada pengunjung yang sampai ke parkiran terakhir tanpa bantuan ojek dari warga lokal, “ayok lah lanjut terus aja fid sampe bawah” celetukku yang ngasal. Tapi ternyata jalannya tangga, untung kami berubah pikiran.
Memang Pantai dan Air Terjun Tembeling sangat indah dan asik baik untuk berenang, bersantai, atau berjemur. Kami terkagum sama alam dan pura yang tersimpan di dinding tebing dan dibuat untuk mengaliri air yang katanya suci. Kami menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam selama disana asik bermain air, bertemu kenalan bule baru. Waktu yang ditempuh dari titik parkiran ke pantai membutuhkan waktu 15-20 menit karena cukup nanjak. Sore tiba dan kami memustuskan untuk berpindah tempat wisata ke Angle Bilabong karena terlihat menarik di internet. Kami mendaki menuju tempat parkir dengan semua bawaan kami jinjing dan angkut. Berpikiran untuk membeli kelapa muda, kami langsung ke atas “Gas riy! let’s go”. Menancap gas siap untuk menghadapi tanjakkan yang menjadi masalah yang harus kita hadapi. pada tanjakan pertama memang sangat sulit, Mufid harus turun “anjir riy! bahaya ini, gua turun yah” tapi jawabku “lemah lah”. Pada tanjakan kedua semakin motor tidak kuat untuk maju, tiba-tiba saja motor mati. Pikirku karena aku turunkan standar motornya makanya gamau menyala. Tetapi standarnya pun tidak diturunkan, dengan menekan tombol start dan menyela motor tetap tidak mau menyala. Kayaknya kita punya masalah lebih daripada cuman harus menerima tanjakkan. “Fid motor mogok lah, hahaa” ucapku, “mampus sih kayaknya kita” dia langsung menjawab “sumpah riy?” dia penasaran untuk mencoba menyalakan motornya. Dalam pikiranku gak mungkin lah kita dorong sampai atas tempat parkiran, kebawah juga ga mungkin udah terlalu jauh. “ini ga mungkin abis bensin riy, masih ada itu di tank-nya” komentarnya, akupun gatau kalau ini mogok atau habis bensin. “lemah lah riy dorong aja kita ampe atas dulu” sebutnya yang ngasal, ide buruk sih tapi yasudah lah. Dorong untuk tanjakkan pertama pun kita udah cape karena bawa semua barang di punggung dan kondisi badan sudah lelah. “ada-ada aja ini fiid, kayaknya kita harusnya isi bensin dulu sih ini” tidak bermaksud untuk menyalahkannya. Yasudahlah kami meninggalkan motor dan tas bawaan di dekatnya lalu menatap lembah dan Mufid sebatbut (sebat ngebut) “lucu yak riy terjebak di lembah dan abis bensin” katanya menyeletuk. yasudah lah kebodohan ini memang kami yang buat dari awal, “kayaknya kalau dorong ke atas bakal baru sampai maghrib sih fid”. Berpikiran untuk meninggalkan motornya dan menelpon pemiliknya, tapi kita masih ingin jalan-jalan. Ide mufid muncul lagi karena kami mager “ayok lah riy suit yang kalah ke bawah tempat parkiran terus minta tolong tukang ojek untuk beliin bensin” suit 3 kali aku yang kalah. yasudah lah, kebawah minta tolong pada tukang ojek, sambil merenung dan bercerita karena kerjaannya Mufid menyusuri sungai dan lembah dan kadang-kadang tersesat juga. Jadi kami memaknai terjebak kami dengan sebatbut lagi.
Bensin motor datang tapi kami cukup bete karena harus mengeluarkan uang, berharap benar cuma habis bensin. Motor kami coba nyalakan dengan menyela, lalu…. YAAP bisa jalan lagi! Semua jalan aku terobos hingga atas, cukup gila sih membawa motor matic dengan cara motor trail. TAPI kami bisa sampai atas, sesampainya di pom bensin aku langsung isi bensin lagi “anjir lemah lah jing” katanya, tapi pikirku bodo amat!
Penting diingat harus isi bensin dan harus bodo amat sama temen yang ngajak kegoblogan
